Oleh Harmen Batubara
Beriklan Di Meta Bisa Jadi
Kunci Keberhasilanmu
Tugas kita tinggal 3 langkah terakhir yang sangat manusiawi:
Lihat - Koreksi - Bayar.
Oleh Harmen Batubara
Beriklan Di Meta Bisa Jadi
Kunci Keberhasilanmu
Tugas kita tinggal 3 langkah terakhir yang sangat manusiawi:
Lihat - Koreksi - Bayar.
Oleh Harmen Batubara
Ini bukan
sekadar menyampaikan informasi. Ini adalah sebuah ajakan untuk bertransformasi.
Setiap
halaman mengundang Anda untuk tidak hanya membaca, tetapi juga bergerak. Sebab,
pengetahuan yang tidak diwujudkan dalam tindakan hanyalah tumpukan kata-kata.
Anda
memiliki bakat. Anda memiliki kemampuan untuk belajar. Anda memiliki kesempatan
untuk bertumbuh. Dan yang paling penting, Anda memiliki potensi untuk membawa
manfaat bagi banyak orang. Dunia membutuhkan orang-orang yang mau memberi,
bukan sekadar ingin terlihat. Komunitas membutuhkan pribadi yang mau hadir,
bukan hanya tampil. Bahkan diri Anda sendiri membutuhkan versi terbaik dari
diri Anda.
Karena
itu, bangkitlah. Beranilah mengaktualisasikan potensi yang selama ini mungkin
masih tertidur. Jangan biarkan hidup hanya berlalu tanpa meninggalkan arti.
Jangan
menunggu waktu yang dianggap sempurna. Jangan menunggu keadaan menjadi ideal.
Kesempatan terbaik sering kali lahir dari langkah pertama yang sederhana.
Peganglah
semangat learn by doing. Mulailah dari tempat Anda berada. Gunakan apa
yang Anda miliki. Libatkan orang-orang yang ada di sekitar Anda. Langkah kecil
yang dilakukan hari ini jauh lebih berharga daripada rencana besar yang terus
ditunda.
Percayalah,
kebermanfaatan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Senyuman yang
tulus, ilmu yang dibagikan, bantuan yang sederhana, atau waktu yang kita
berikan kepada orang lain sering kali menjadi alasan seseorang kembali memiliki
harapan.
"Jejak
kaki yang paling berharga bukanlah yang tercetak di atas pasir, melainkan yang
terukir di dalam hati manusia."
Kalimat
itu mengingatkan kita bahwa hidup bukan tentang meninggalkan kemewahan,
melainkan meninggalkan kebaikan yang terus dikenang.
Buku ini
mengajak kita mengubah cara berpikir. Dari pertanyaan, "Apa yang bisa
dunia berikan kepadaku?", menjadi "Apa yang bisa aku berikan
kepada dunia?"
Dari pola
hidup yang mengejar pengakuan, menuju kehidupan yang menghadirkan kebermanfaatan.
Dari
keinginan untuk dipuji, menjadi kerinduan untuk menjadi solusi.
Sebab,
ukuran kesuksesan sejati bukanlah seberapa mahal mobil yang kita miliki,
seberapa mewah pakaian yang kita kenakan, atau setinggi apa jabatan yang kita
sandang. Kesuksesan sejati diukur dari seberapa banyak kehidupan yang menjadi
lebih baik karena kehadiran kita.
Pada
akhirnya, manusia tidak dikenang karena gayanya, tetapi karena manfaatnya.
Tidak
semua orang mampu menjadi terkenal, tetapi setiap orang memiliki kesempatan
untuk menjadi berguna.
Dan
ketika hidup kita mulai meringankan beban orang lain, menguatkan mereka yang
hampir menyerah, serta menginspirasi mereka untuk terus melangkah, saat itulah
kita menemukan makna kehidupan yang sesungguhnya.
Karena
nilai tertinggi seorang manusia bukan terletak pada apa yang ia miliki,
melainkan pada seberapa besar manfaat yang ia tinggalkan setelah dirinya pergi.
Oleh Harmen Batubara
Menulis adalah perjalanan panjang yang sering kali tidak memiliki garis
akhir. Ia bukan sekadar aktivitas menyusun kata demi kata, melainkan sebuah
cara manusia meninggalkan jejak tentang apa yang pernah dipikirkan, dirasakan,
dan diperjuangkan dalam hidupnya.
Dulu, menjadi penulis terasa seperti memasuki gerbang yang dijaga begitu
rapat. Tulisan harus menunggu dimuat di surat kabar, majalah, atau penerbit
besar. Banyak gagasan akhirnya mengendap dalam catatan usang karena tidak
menemukan tempat untuk tumbuh. Tetapi dunia telah berubah.
Hari ini, dunia digital membuka jalan yang nyaris tanpa batas. Siapa
saja kini bisa menulis. Siapa saja bisa bercerita. Dari sebuah kamar sederhana,
dari meja kecil di sudut rumah, lahirlah tulisan-tulisan yang mampu menjangkau
ribuan bahkan jutaan orang. Dunia dot com telah menjelma menjadi taman bermain
tanpa tepi bagi para pencinta literasi.
Dari halaman kosong yang sunyi, seorang penulis belajar mengenali
dirinya sendiri. Ia belajar bahwa menulis bukan hanya soal bakat, tetapi soal
keberanian untuk terus mencoba. Tentang kesediaan menerima bahwa tulisan
pertama mungkin berantakan, kalimat terasa kaku, dan ide belum sempurna. Namun
justru dari proses itulah kemampuan ditempa.
Dunia kepenulisan hari ini bukan lagi tentang siapa yang paling hebat
sejak awal, melainkan siapa yang paling tekun bertumbuh. Ada begitu banyak
ruang belajar yang bisa dijangkau. Lokakarya menulis, kelas daring, buku-buku,
hingga percakapan sederhana sesama penulis—semuanya menjadi tempat saling asah
dan saling menguatkan.
Bahkan kini teknologi hadir sebagai sahabat baru. AI membantu mencari
ide, menyusun kerangka, memperhalus bahasa, hingga menghidupkan gagasan menjadi
tulisan yang lebih enak dibaca. Tetapi pada akhirnya, jiwa dari sebuah tulisan
tetap berasal dari pengalaman, perasaan, dan sudut pandang manusia yang
menuliskannya.
Karena itu, jangan takut memulai.
Mulailah dari blog sederhana di Blogger atau WordPress. Tulis artikel
pendek. Ceritakan keresahanmu. Bagikan pengalaman hidupmu. Jelajahi berbagai
format tulisan. Biarkan karya-karyamu tinggal di sana, menjadi saksi bahwa kau
pernah berusaha menghidupkan gagasanmu sendiri.
Barangkali suatu hari tulisan itu berubah menjadi ebook. Menjadi buku.
Menjadi artikel yang dibaca banyak orang. Atau mungkin hanya menjadi tulisan
sederhana yang menguatkan satu orang yang sedang kehilangan arah. Tetapi
percayalah, tidak ada tulisan yang benar-benar sia-sia.
Sebab menulis bukan hanya tentang dikenal dunia. Menulis adalah tentang
menjaga agar pikiran tetap hidup. Tentang menyelamatkan kenangan dari lupa.
Tentang membuktikan bahwa kita pernah ada, pernah berpikir, pernah bermimpi,
dan pernah ingin meninggalkan sesuatu yang bermakna.
Dan ketika suatu hari namamu disebut orang karena tulisanmu, mungkin itu
bukan hadiah terbesar. Hadiah terbesar sesungguhnya adalah ketika kau menyadari
bahwa dirimu tidak menyerah di tengah perjalanan.
Karena perjalanan menulis memang tak pernah menemukan ujung.
Semakin jauh melangkah, semakin luas dunia yang ingin dituliskan.
Semakin banyak pengalaman yang ingin dibagikan. Semakin dalam makna yang ingin
dipahami.
Maka rangkullah dunia digital ini. Jadikan ia ruang belajar, ruang
berkarya, dan ruang bertumbuh. Sebab bisa jadi, apa yang hari ini kau tuliskan
dengan sederhana, kelak akan dibaca kembali oleh generasi berikutnya.
Dan dari sanalah perjalananmu akan terus hidup.
Bencana Siklon Senyar di Sumatera—melanda Aceh, Sumatera
Utara, dan Sumatera Barat—telah merenggut lebih dari 600 jiwa dan
meninggalkan 468 orang yang masih hilang. Angka itu bukan hanya
menunjukkan dahsyatnya kekuatan alam, tetapi juga memperlihatkan betapa rapuhnya
kesiapan kita menghadapi bencana besar.
Salah satu kelemahan mendasar adalah minimnya integrasi
antarlembaga penting seperti BMKG, BRIN, BNPB, dan BIG. Data dan informasi
vital yang seharusnya menjadi dasar pengambilan keputusan belum terhubung
secara optimal. Belum lagi, pemanfaatan teknologi canggih seperti Artificial
Intelligence (AI) masih sangat kurang. Padahal, AI bisa membantu memprediksi
bencana lebih akurat, memetakan area rawan, dan mengoptimalkan respons darurat.
Infrastruktur di daerah rawan bencana juga menjadi sorotan utama. Banyak tebing dan hutan di area rawan longsor tidak memiliki penanganan yang memadai. Tanggul-tanggul sungai masih rapuh, dan penyempitan aliran sungai memperparah risiko banjir. Selain itu, pemetaan zona rawan bencana belum dilakukan secara detail dan akurat, sehingga masyarakat dan pemerintah tidak memiliki informasi lengkap untuk mitigasi.
Kita harus mengakui satu hal dengan jujur:
bencana ini terjadi di wilayah yang memang rawan, dan kerawanannya
diperparah oleh sistem kebencanaan yang belum sempurna.
1. Sistem
Kebencanaan yang Belum Terintegrasi
Indonesia memiliki lembaga-lembaga penting seperti: BMKG (cuaca dan iklim), BRIN (riset dan pemodelan atmosfer), BNPB (penanganan bencana), BIG (informasi geospasial).
Namun dalam praktiknya, keempat lembaga ini belum
terhubung dalam satu sistem peringatan dini terpadu, apalagi yang
memanfaatkan AI untuk memprediksi anomali cuaca ekstrem.
Siklon Senyar muncul tanpa antisipasi. Tanpa peringatan
jelas. Tanpa waktu yang cukup bagi warga untuk menyelamatkan diri.
Ini bukan salah satu lembaga, melainkan gambaran bahwa integrasi
data cuaca–geospasial–riset–kebencanaan belum berjalan secara real-time.
2. Infrastruktur Daerah yang Tidak Tahan Bencana
Kerusakan besar terjadi karena banyak infrastruktur di
daerah rawan tidak dirancang untuk menghadapi cuaca ekstrem.
Beberapa kelemahan paling terlihat:
● Tebing
dan lereng yang rapuh
Banyak lereng tidak diperkuat, ditambah deforestasi di
kawasan rawan longsor. Akibatnya, sedikit saja tekanan cuaca ekstrem membuat tanah
runtuh dan menerjang permukiman.
● Tanggul
yang ringkih
Tanggul di banyak daerah sudah tua, tidak diperbarui,
dan kalah oleh volume air yang meningkat drastis.
● Sungai
yang menyempit
Sempitnya alur sungai—baik karena sedimentasi ataupun
bangunan liar—membuat air meluap tanpa hambatan.
● Zona
rawan yang tidak terpetakan
Banyak daerah yang sesungguhnya berbahaya tetap dihuni
karena peta kerawanan tidak lengkap, tidak akurat, atau tidak dipatuhi.
Bencana besar memperlihatkan bahwa sebagian besar
pemerintah daerah belum memiliki standar keselamatan yang memadai.
Kekurangan yang sangat mencolok:
● Tidak ada
shelter evakuasi berstandar nasional
Banyak warga terjebak karena tidak ada bangunan aman
yang bisa melindungi mereka dari banjir dan longsor.
● Jalur
evakuasi tidak jelas dan tidak teruji
Warga tidak tahu harus lari ke mana, karena jalurnya
tidak disiapkan, atau malah ikut tertutup longsor.
● Tidak ada
pelatihan simulasi bencana
Kesiapan masyarakat terbatas karena simulasi bencana
jarang atau tidak pernah dilakukan secara rutin.
● Izin
permukiman yang longgar
Masih banyak kawasan pemukiman dan industri berdiri di
daerah rawan banjir, rawan longsor, dan rawan luapan sungai.
Bencana ini adalah peringatan keras bahwa Indonesia
tidak boleh lagi bergantung pada keberuntungan.
1. Bangun
Sistem Peringatan Dini Terintegrasi Berbasis AI
Seluruh data BMKG, BRIN, BIG, dan BNPB harus berada
dalam satu dashboard nasional, real-time, dengan model prediksi berbasis AI.
2. Perkuat
Infrastruktur Tahan Bencana
· Stabilitas lereng dan rehabilitasi hutan rawan longsor
· Tanggul sungai yang diperkuat
· Normalisasi sungai dan antisipasi sedimentasi
· Audit menyeluruh terhadap infrastruktur rawan runtuh
3.
Standarisasi Keselamatan Daerah
· Setiap provinsi wajib memiliki shelter evakuasi
· Jalur evakuasi dipetakan ulang dan diuji setiap tahun
· Program simulasi bencana wajib dan berkelanjutan
4.
Reformasi Tata Ruang Berbasis Risiko
Stop memberikan izin konstruksi di zona merah bencana.
Relokasi harus diprioritaskan demi keselamatan jangka panjang.
Bencana memang sudah terjadi. Kehilangan ratusan nyawa tidak bisa dikembalikan. Namun dari tragedi ini, kita diberi kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang selama ini dibiarkan rapuh.
Kita tidak boleh mengulang luka yang sama. Yang harus diperbaiki bukan
hanya tanggul, bukan hanya jalan— tetapi sistem, tata ruang, dan kesiapan
kita sebagai bangsa.
Oleh Harmen Batubara
Di
antara kekayaan alam Indonesia, tersembunyi berbagai tanaman obat yang
khasiatnya telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satu bintangnya adalah
daun kumis kucing. Tanaman dengan bunga yang menyerupai kumis kucing ini
bukanlah pendatang baru dalam dunia pengobatan tradisional. Manfaatnya telah
melegenda sejak zaman leluhur dan terus menjadi perbincangan hangat hingga hari
ini.
Triterpenoid:
Berkontribusi pada sifat diuretiknya (peluruh kencing).
Sinensetin:
Senyawa khusus yang juga berperan dalam meningkatkan produksi urine dan
memiliki efek antiradang.
Ini adalah manfaat paling terkenal. Daun
kumis kucing merangsang pengeluaran air seni, sehingga membantu membersihkan
saluran kemih dan ginjal dari zat-zat sisa dan bakteri. Ini membuatnya sangat
baik untuk mencegah dan membantu mengatasi infeksi saluran kemih serta batu
ginjal.
2. Penjaga Kesehatan Ginjal
Dengan membantu membersihkan ginjal, daun
ini diyakini dapat menjaga fungsi ginjal tetap optimal. Kemampuannya melarutkan
asam urat dan kelebihan garam di dalam tubuh juga turut meringankan beban kerja
ginjal.
Sifat diuretiknya membantu mengeluarkan
kelebihan garam (natrium) dan cairan dari dalam tubuh, yang pada akhirnya dapat
membantu menurunkan tekanan darah.
Kandungan antioksidan dan anti-inflamasinya
menjadikan daun ini sebagai sobat bagi tubuh dalam melawan berbagai kondisi
peradangan, seperti pada radang sendi (arthritis). Antioksidannya juga membantu
melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan.
Beberapa studi menunjukkan potensi daun
kumis kucing dalam membantu menstabilkan kadar gula darah, menjadikannya
tanaman pendamping yang baik untuk manajemen diabetes.
![]() |
| Teh Rimpang |
Oleh Harmen Batubara
Bayangkan Anda sedang duduk di teras rumah di pagi hari yang sejuk,
menyeruput secangkir minuman hangat yang bukan hanya menyegarkan, tapi juga
membangkitkan kenangan akan kebijaksanaan nenek moyang. Di tengah hiruk-pikuk
kehidupan modern yang penuh stres dan polusi, apa jadinya jika ada rahasia
sederhana dari alam yang bisa mengembalikan keseimbangan tubuh dan jiwa? Itulah
pesona Teh Rimpang, minuman herbal tradisional Indonesia yang kini
kembali menjadi favorit banyak orang. Bukan sekadar minuman, ini adalah warisan
leluhur yang menjanjikan kesehatan alami—dan yang terpenting, terjangkau untuk
semua kalangan.
Latar Belakang
Sejarah: Warisan dari Nusantara
Teh Rimpang bukanlah penemuan baru; ia telah menjadi bagian dari
kehidupan masyarakat Indonesia sejak berabad-abad lalu. Di tanah Jawa, Sumatra,
dan Bali, rimpang atau empon-empon seperti jahe dan kunyit telah digunakan
dalam pengobatan tradisional Jamu sejak era kerajaan Hindu-Buddha. Menurut
catatan sejarah, masyarakat adat sering meracik campuran ini untuk mengatasi
musim hujan yang membawa penyakit, atau untuk menjaga stamina para pekerja di
sawah dan hutan. Bahkan, dalam budaya Sunda dan Jawa, minuman ini disebut
sebagai "jamu rimpang" yang disajikan saat upacara adat atau sebagai
obat harian. Di masa kolonial, Teh Rimpang menjadi benteng perlawanan alami
terhadap penyakit tropis, membuktikan ketangguhannya sebagai obat warisan yang
tak tergantikan. Kini, dengan kemasan modern seperti teh celup, warisan ini
tetap hidup, mengingatkan kita pada akar budaya yang kaya akan kebijaksanaan
alam.
Ragam Ramuan:
Kekayaan dari Bumi Indonesia
Apa yang membuat Teh Rimpang begitu istimewa? Rahasianya terletak pada
campuran rimpang segar yang berasal dari kebun-kebun tropis Nusantara. Ramuan
dasar biasanya mencakup jahe untuk
menghangatkan tubuh dan meredakan mual, kunyit yang
kaya kurkumin untuk efek anti-inflamasi, serai yang
menenangkan pencernaan, serta lengkuas untuk
meningkatkan imunitas. Terkadang, ditambahkan elemen lain seperti temulawak
untuk detoksifikasi atau kencur untuk energi ekstra. Variasi ini bisa
disesuaikan: ada yang lebih pedas untuk musim dingin, atau yang ringan untuk
konsumsi harian. Dibuat dari bahan alami tanpa pengawet kimia, Teh Rimpang
mudah diseduh—cukup celupkan kantongnya ke air panas selama 3-5 menit, dan
nikmati aroma rempah yang menenangkan. Manfaatnya nyata: membantu meredakan
nyeri sendi, menjaga daya tahan tubuh, dan bahkan mendukung pencernaan sehat,
semuanya didukung oleh penelitian modern tentang sifat antioksidan rimpang ini.
Kini Banyak Dicari:
Murah, Berhasiat, dan Dekat dengan Hati
Di era di mana obat-obatan mahal dan kimiawi mendominasi, Teh Rimpang
muncul sebagai oase yang murah meriah—hanya dengan harga ribuan rupiah per
kemasan, Anda bisa mendapatkan manfaat kesehatan yang terbukti. Banyak orang
kini beralih ke minuman ini karena khasiat nyatanya: ibu rumah tangga merasakan
tubuh lebih ringan setelah mengonsumsinya secara rutin, pekerja kantor menemukan
bantuan dari pegal-pegal harian, dan lansia merasa lebih bertenaga. Emosi yang
meluap saat menikmatinya? Itu adalah rasa bangga atas warisan leluhur yang tak
lekang waktu, sekaligus haru karena alam Indonesia begitu dermawan. Di tengah
pandemi dan gaya hidup sibuk, Teh Rimpang bukan hanya minuman, tapi pelukan
hangat dari masa lalu yang menjaga kita tetap sehat hari ini.
Jadi, mengapa tidak memulai hari ini dengan secangkir Teh Rimpang? Kunjungi toko herbal terdekat atau pesan secara online, dan rasakan sendiri bagaimana warisan leluhur ini bisa mengubah rutinitas Anda menjadi lebih sehat dan bermakna. Bagikan pengalaman Anda dengan keluarga dan teman—mari kita lestarikan keajaiban Nusantara ini bersama. Selamat menikmati, dan tetap sehat selalu.
Jejak Sejarah dalam Setiap Tegukan
Sejarah Teh Rimpang tak lepas dari kekayaan rempah-rempah dan tanaman
obat yang melimpah ruah di bumi Indonesia. Sejak ribuan tahun silam, nenek
moyang kita telah akrab dengan rimpang-rimpangan seperti jahe, kunyit,
temulawak, dan serai. Mereka bukan hanya digunakan sebagai bumbu masakan,
melainkan juga diracik menjadi ramuan pengobatan tradisional untuk menjaga
stamina, mengatasi berbagai penyakit, hingga menjadi bagian dari ritual adat.
Pengetahuan ini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi, menjadikan
Teh Rimpang lebih dari sekadar minuman, melainkan cerminan kebijaksanaan lokal
yang telah teruji oleh waktu. Resep-resep kuno ini, yang dulunya mungkin hanya
dikenal di kalangan terbatas, kini kembali menemukan relevansinya di era
modern.
**Jahe:** Dikenal luas akan sifat anti-inflamasi dan kemampuannya
meredakan mual, nyeri otot, serta menghangatkan tubuh.
**Kunyit:** Kaya akan kurkumin, antioksidan kuat yang bermanfaat sebagai
anti-inflamasi, meningkatkan fungsi otak, dan mendukung kesehatan kulit.
**Serai:** Memberikan aroma harum dan menyegarkan, serta memiliki sifat
antimikroba dan antioksidan yang baik untuk pencernaan.
**Lengkuas:** Mirip jahe, lengkuas juga memiliki sifat anti-inflamasi
dan dapat membantu meredakan nyeri.
Tertarik? Klik Link Nya Disini.
![]() |
| Paket Lapangan Kerja Baru 2025 |
Setelah
Demo Kerusuhan per 25 -31 Agustus lalu. Pemerintah kini terus berbenah dan
mencoba untuk membuka lapangan kerja yang seluas luasnya. Tentu kita sangat
senang mendengarnya. Meski kita juga sadar sepenuhnya. Kalau berbagai upaya ini
tidak dikelola oleh orang-orang professional dan punya kredibilitas. Maka
dipercaya program-program ini bakal jadi bancaan Korupsi yang sulit dihindarkan.
Tapi semua itu perlu diapresiasi dan semoga upaya ini bisa memberikan manfaat
bagi warga.
Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada 15 September 2025 menyampaikan peluncuran Program Penyerapan
Tenaga Kerja Tahun 2025.
Pertama-
Pemerintah memulai program magang bagi lulusan perguruan tinggi fresh graduate,
melalui kerja sama dengan sektor industri. Tahap pertama sebanyak 20 ribu
orang, mereka bakal dapat fasilitas berupa uang saku setara UMP selama enam
bulan.
Kedua
terkait perluasan PPh 21. Bebas pajak atau pajak dibayarkan pemerintah yang tadinya focus pada sektor padat karya
kini ditambah sektor parawisata, hotel, restoran, dan kafe. Target penerimanya
552 ribu pekerja untuk sisa tahun pajak 2025 atau 3 bulan
Ketiga-Pemerintah
akan melanjutkan bantuan pangan bagi “para penerima pangan” selama 2 bulan ke
depan dengan penyaluran 10 kilogram beras pada bulan Oktober dan November.
Keempat
Pemerintah memberikan bantuan iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan
Kematian (JKM) bagi pekerja bukan penerima upah, yang mencakup pengemudi
transportasi online, ojek pangkalan, sopir, kurir, dan tenaga logistik. Program
tersebu menargetkan 731.361 penerima manfaat dengan potongan iuran sebesar 50%
selama 6 bulan.
Kelima-Pemerintah
memberikan manfaat tambahan melalui program perumahan BPJS Ketenagakerjaan
dengan menurunkan bunga kredit perumahan untuk pekerja dari BI rate +5 persen
menjadi BI rate +3 persen. Untuk penerima dapat untuk cicilan perumahan maupun
uang muka (down payment). Sementara untuk para pengembang perumahan, bunga
diturunkan dari BI rate +6 persen menjadi +4 persen.
Pemerintah
juga menyiapkan program padat karya tunai (cash for work) oleh Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Perhubungan pada
periode September hingga Desember 2025, dengan sasaran 609.465 penerima
manfaat.
![]() |
| Menulis Artikel Yang Disukai Redaksi atau Admin |
Pemerintah
juga telah menyiapkan program penyerapan tenaga kerja, seperti :
Program
Koperasi Desa Merah Putih. Ditargetkan akan terbentuk 80 ribu unit usaha baru
dengan estimasi penyerapan 681 ribu tenaga kerja dan target hingga 1 juta orang
pada Desember 2025.
Kampung
Nelayan Merah Putih akan dikembangkan di 100 desa dengan potensi serapan 8.645
tenaga kerja.
Revitalisasi
Tambak di kawasan Pantura dengan luas 20
ribu hektare diperkirakan mampu menyerap 168 ribu tenaga kerja. Ditopang dengan
program modernisasi kapal yang mencakup pembangunan 1.000 kapal nelayan baru,
serta pengadaan kapal berkapasitas 30 GT hingga 2.000 GT bagi koperasi maupun
pelaku usaha BUMN.
Program
perkebunan rakyat melalui penanaman kembali 870 ribu hektare. Komoditas prioritas seperti tebu, kakao,
kelapa, kopi, mete, dan pala.